Siapakah gerangan?

ada rasa yang menaruh harap

pada sepasang mata seorang hawa

pandangan yang mengantar mimpi menjadi doa

yang menggiring degup jantung menjadi sebuah lagu

siapakah kau gerangan?

dalam diammu yang emas

engkau tak sepenuhnya berdiam

'kau sembunyikan 1000 misteri dalam diammu

yang lalu merekah melalui sebuah senyuman

manis bagai mawar diujung senja

'kau cantik bagai sajak yang dirindukan pujangga

siapakah kau gerangan?

Hidup

Hidup

Hidup itu hitam, hidup itu putih

hidup itu hijau, hidup itu cokelat

ambil kata untuk mengukir

diatas pualam besar kita ambil pikir

lebar jala tak selebar samudera

tinggi jurang tak setinggi bulan

terang lentera tak seterang mentari

dalam jarak pandang yang mulai kabur

ada langkah kaki yang lemah

juga semangat yang mulai goyah

ia kian payah

Hidup

Hidup itu hidup, hidup itu mati

Hidup itu redup, hidup itu tak pasti

dalam setiap hujan ada nyala api yang terpadamkan

dalam senja ada surya terterkam menjadi gelap

amarah dan menyerah pada ketiadaan

bukan cara untuk lari menghindar

kegusaran akan hidup

yang menjadikan langkahnya melemah

pada nyala api yang dikobar

menyisakan nyala api yang menghangatkan

nyala api yang membakar

hanya berujung pada tungku tungku tua

kalah jadi abu menang jadi arang

Hidup

hidup itu menghangatkan, hidup itu membakar

hidup itu memilih, hidup itu masa bodoh

Embun ngga perlu warna buat bikin daun jatuh cinta
Malaikat Tanpa Sayap

Abaikan Saja Latar Tempat dan Waktunya (part II)

Pengunjung baru di sebelahku itu adalah lelaki paruh baya dengan rambut sedikit melebihi kuping dan hampir putih. Wajah legamnya mengisyaratkan ia adalah seorang penantang jalanan yang sering kepanasan. Lalu sampai pada di satu momen ia mulai mengajakku berbicara. Ia menyapaku dengan suaranya yang dalam sedalam samudera dan gaya bahasanya yang tersusun baik dan rapi. Ia bukan orang asal. Nalurinya seorang bapak sejati yang menyayangi keluarga. “Sudah lama sering makan disini?” sapa sang pengunjung ramah. “Ya, kira kira begitulah pak” sahutku. 5-10 menit berselang aku mengenalkan namaku, dan sekarang aku memanggilnya Pak Fatwa. Kita mengobrol dengan asik, ia orang yang ramah. Aku mendapatkan teman baru hari ini. 3-4 menit kami tidak melanjutkan pembicaraan. Pak Fatwa mengambil Es Teh yang tidak terlihat seperti teh biasanya, karena belum menghitam sempurna tehnya akibat tidak diseduh air yang panas.  Aku hanya menyeringai menatap ia meminum tehnya yang aneh itu.Tak lama ia angkat bicara. “Nak lihat teh ini, tidak hitam sempurna karena tidak diseduh dengan air panas” Ia mengangkat gelasnya dan sedikit mengaduknya. “Dari tempat kamu duduk sekarang bukankah kamu melihat saat pelayan menuangkan air yang tidak panas?” tambahnya. “Aku melihatnya dengan lamat-lamat, Pak” sahutku. “Lalu mengapa kau tidak menegurnya bahwa pelayan tadi seharusnya menuangkan air panas” balas Pak Fatwa. “Karena… ehh aku…” balasku kebingungan “karena aku tidak tahu bagaimana menyeduh teh” aku mencoba berkelit. “Tidak nak, semua orang pasti tahu bagaimana menyeduh teh” sahut Pak Fatwa. Aku terdiam tidak membalas. Lagipula apa yang harus aku lakukan ketika pelayan itu menuangkan airnya yang tdiak panas itu. "Nak, adakalanya kamu harus merasa peduli dengan hal-hal kecil, meskipun teh ini bukan pesananmu. Meskipun bukan untuk melepaskan dahagamu". aku tersungut sungut menunduk dan Pak Fatwa menepuk bahuku seperti seorang ayah ketika menepuk bahu anak lelakinya. Pelan tapi bergelora.

Abaikan Saja Latar Tempat dan Waktunya

Siang itu, aspal yang panas habis membakar kulitku. Aku singgah di warung kopi di tempat kami (aku dan teman-teman) biasa berkumpul. Tempat dimana kami membicarakan hal-hal yang tak penting, bersenda gurau atau hanya sekedar menghilangkan kejenuhan setelah seharian beraktifitas. Kami biasa duduk di pinggir lemari kaca agar kami dapat melihat keadaan sekitar warung. Tapi siang ini berbeda Banyak keanehan-keanehan terjadi. Aku duduk sendiri, memesan kopi dan sepiring nasi rames. 2-3 menit, secangkir kopi dan sebuah sendok kecil yang nyaris menghitam tiba di depanku dengan setumpuk nasi rames porsi raksasa. 20 menit kiranya aku melahap KO makanan di depanku. Kopi yang ku pesan sudah mendingin, ampas nya sekarang mengendap di dasar cangkir. Pahit kopi tak seperti biasanya. Lalu aku tak mau memusingkan urusan kopi lagipula apa bedanya satu sachet kopi dengan kopi yang lain? Sekarang pukul 13:02 di jam sebuah dinding warung kopi. Tak terlihat jelas batang-batang jarum jamnya, karena kaca jam tersebut tertutup debu tebal kecoklatan. “pesan apa mas?” sapa pelayan warung kopi yang berusaha menyapa seramah mungkin kepada pengunjung baru. Memesan Es Teh Manis sambar sang pengunjung sayup-sayup ku dengar. Lalu dengan cekatan sang pelayan mengambil gelas dan menuangkan teh tubruk ke dalam gelas. Lalu ada keanehan terjadi saat sang pelayang dengan baju jingga yang kusut itu menuangkan air ke dalam gelas berisi teh tersebut; itu bukan air panas. Melainkan air matang yang sudah menjadi dingin. Aku ingin menegurnya. Ahh tapi apa gunanya, toh bukan aku yang memesan. Es Teh Manis pun tiba dan siap diminum oleh seorang pengunjung yang baru datang itu. Lalu ia pindah duduk di sebelahku, kami berbagi kursi kayu yang kecil dan sudah mulai terlepas dari paku pada setiap kayunya. Dan keanehan terjadi. Mengapa ia harus pindah ke sebelahku sedangkan kursi kayu yang panjang seperti jembatan di Inggris itu  menawarkan porsi duduk yang lebih luas. Lagi lagi aku tidak mau peduli lagipula mungkin ia juga senang duduk di samping lemari kaca ini. Dan apa salahnya berbagi. (bersambung ke post selanjutnya)

(Reblogged from m-anifestation)
ecperience teachs you many priceless thing, so thankful for that
ANONYMOUS
John lennon style!!

John lennon style!!

(Reblogged from thinkmyself)